MAKNA DAN SIMBOL UPACARA MANABUR BONI DI SUKAMANDI HILIR LUBUK PAKAM DALAM PERSPEKTIF ANTROPOLOGI

Authors

  • Fry Alicya Krisye Panjaitan Panjaitan Universitas Negeri Medan
  • Sulian Ekomila Universitas Negeri Medan

DOI:

https://doi.org/10.24114/85g3a444

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menguraikan makna dan simbol serta pengelolaan upacara Manabur Boni bagi masyarakat di Desa Sukamandi Hilir sebagai tradisi agraris yang menandai dimulainya musim tanam padi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan masyarakat, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan upacara Manabur Boni meliputi penentuan hari, persiapan perlengkapan ritual, doa bersama, penaburan benih pertama, dan makan bersama. Setiap tahapan mengandung simbol kesuburan, perlindungan, dan rasa syukur yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Selain itu, tradisi ini memperlihatkan adanya sinkretisme antara nilai-nilai adat Batak Toba dan ajaran Kristen, sehingga tetap relevan dalam kehidupan masyarakat kontemporer. Upacara Manabur Boni tidak hanya berfungsi secara spiritual, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial, menjaga keberlanjutan pengetahuan ekologi lokal, serta menjadi mekanisme kolektif dalam menghadapi ketidakpastian hasil pertanian. Dengan demikian, Manabur Boni merupakan ekspresi identitas budaya sekaligus strategi adaptif masyarakat agraris dalam menjaga keberlanjutan sosial dan ekonomi.

Author Biographies

  • Fry Alicya Krisye Panjaitan Panjaitan, Universitas Negeri Medan

    Pendidikan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial

  • Sulian Ekomila, Universitas Negeri Medan

    Pendidikan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial

References

Published

2025-12-30