Fenomena Ketidaksantunan Berbahasa Netizen pada Platform TikTok: Studi Kasus Akun “Tongseng Kambing Bu Soleh”

Authors

  • Silvia Dwi -Maharani Universitas Nusantara PGRI Kediri
  • Eka Damayanti Universitas Nusantara PGRI Kediri
  • Bagus Rizkyawan Abimanyu Universitas Nusantara PGRI Kediri
  • Marcelinda Tinggi Nalu Universitas Nusantara PGRI Kediri
  • Nur Lailiyah Universitas Nusantara PGRI Kediri

DOI:

https://doi.org/10.24114/x4h37g09

Keywords:

Ketidaksantunan Berbahasa, Netizen TikTok

Abstract

Perkembangan media sosial, khususnya TikTok, telahmenciptakan ruang komunikasi digital yang memungkinkanpengguna menyampaikan pendapat secara bebas. Namun, kebebasan tersebut juga memunculkan fenomenaketidaksantunan berbahasa dalam kolom komentar. Penelitianini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk ketidaksantunanberbahasa netizen pada kolom komentar akun TikTok TongsengKambing Bu Soleh berdasarkan Prinsip Kesantunan Geoffrey Leech serta menjelaskan pengaruh konteks ekstralinguistikdalam perspektif Cyberpragmatics terhadap pemaknaanketidaksantunan tersebut. Penelitian ini menggunakan metodepragmatik dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa 30 komentar netizen yang mengandungpelanggaran maksim kesantunan, dikumpulkan melalui tekniksimak dan catat, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajiandata, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkanbahwa ditemukan pelanggaran terhadap enam maksimkesantunan, yaitu maksim kebijaksanaan sebanyak 5 data, maksim kedermawanan 1 data, maksim penghargaan 16 data, maksim kerendahan hati 1 data, maksim kesepakatan 4 data, dan maksim simpati 3 data. Pelanggaran maksim penghargaanmerupakan bentuk yang paling dominan, ditandai denganbanyaknya komentar berupa celaan, ejekan, sindiran, penghinaan, dan penilaian negatif terhadap makanan maupunpenjual. Selain itu, konteks ekstralinguistik dalam perspektifCyberpragmatics menunjukkan bahwa karakteristik media TikTok yang terbuka, interaktif, cepat, dan memungkinkananonimitas pengguna mendorong munculnya ketidaksantunanberbahasa. Penggunaan unsur digital seperti emoji, hurufkapital, pengulangan huruf, ironi, hiperbola, dan sarkasmeturut memperkuat makna ketidaksantunan dalam komunikasidigital. Dengan demikian, ketidaksantunan berbahasa di media sosial dipengaruhi tidak hanya oleh bentuk linguistik, tetapijuga oleh konteks komunikasi digital yang melatarbelakanginya.

Author Biographies

  • Bagus Rizkyawan Abimanyu, Universitas Nusantara PGRI Kediri

    Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Nusantara PGRI Kediri.

  • Marcelinda Tinggi Nalu, Universitas Nusantara PGRI Kediri

    Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Nusantara PGRI Kediri.

  • Nur Lailiyah, Universitas Nusantara PGRI Kediri

    Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Nusantara PGRI Kediri.

References

Aulia, L. A., Lubis, N. A., Siagian, R. E., Lumbanraja, R. S. R., Etami, W., Khairani, I., & Ghafari, M. O.F. (2025). Sarkasme dan Ketidaksesanan Verbal dalam Tren 'Asbun' Komentar Tiktok @Puttriipaddang. CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora, 2(2), 853–860. https://doi.org/10.62710/79M7ZR77

Downloads

Published

2026-07-30