Robhong Holo: Migrasi, Diferensiasi Kebudayaan dan Deteriorasi pada Cagar Alam Pegunungan Cycloop di Kabupaten Jayapura
Abstract
Kerusakan lingkungan merupakan fenomena global yang saat ini sedang dihadapi oleh seluruh umat manusia sebagai akibat dari pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali dan terbatasnya sumber daya alam yang tersedia. Salah satu faktor utama yang mendukung terjadinya kerusakan lingkungan adalah migrasi dan perbedaan budaya antara pendatang dan penduduk asli yang menempati wilayah tersebut. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnograf. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara antropologis hubungan antara populasi pendatang dari Pegunungan Tengah Papua yang memiliki konstruksi budaya yang berbeda dengan masyarakat Sentani di wilayah Sentani, Kabupaten Jayapura, yang menyebabkan perbedaan konsepsi pemanfaatan lahan. Para Migran memiliki model ekonomi tradisional perladangan berpindah dengan cara membabat dan membakar daerah potensial yang adalah hutan, berdampak signifikan terhadap perubahan lanskap dan deteriorasi lingkungan yang terjadi di daerah pegunungan Cycloop. Dampak dari pemanfaatan lahan yang berlebihan di kawasan cagar alam ini menyebabkan perubahan bentang alam dan kerusakan lingkungan, yang manifestasinya terlihat pada bencana banjir bandang di tahun 2019.
Environmental degradation is a global phenomenon that is currently being faced by all mankind as a result of uncontrolled population growth and limited natural resources available. One of the main factors supporting environmental deterioration is migration and cultural differentiation of migrants and indigenous people who occupy the area. This research is qualitative research with an ethnographic approach This article aims to describe anthropologically the relationship between population migration from the Central Mountains of Papua who have different cultural constructions and the Sentani people in the Sentani area, Jayapura Regency, which causes differences in conceptions of land use. Migrants have a traditional economic model of shifting cultivation by clearing and burning potential forest areas, which has a significant impact on landscape changes and environmental deterioration that occurs in the Cycloop mountain area. The impact of excessive land use in this nature reserve area has caused landscape changes and environmental deterioration, the manifestation of which was seen in the flash flood disaster in 2019.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Eriksen, T. H. (2016). Overheating: An Anthropology of Accelerated Change. Pluto Press. https://doi.org/https://doi.org/10.2307/j.ctt1cc2mxj
Greiner, C., & Sakdapolrak, P. (2013). Rural—urban migration, agrarian change, and the environment in Kenya: a critical review of the literature. 34(4), 524–553. http://www.jstor.org/stable/42636887
Haenn, N., Harnish, A., & Wilk, R. R. (2016). The Environment in Anthropology. University Press.
Hairiah, K. (1995). Sistem Agroforestri di Indonesia.
Halomoan, H. (2015). Dampak Sosial Ekonomi Kerusakan Hutan Cycloops Pada Masyarakat Di Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura. ECOTROPHIC : Jurnal Ilmu Lingkungan (Journal of Environmental Science), 5(2), 85–92.
Heider, K. G. (1970). The Dugum Dani (1st Editio). Routledge. https://doi.org/https://doi.org/10.4324/9781315131849
Keagop, P. (2023). Dari Bencana Alam ke Bencana Non Alam. Suaraperempuanpapua.Id. https://suaraperempuanpapua.id/dari-bencana-alam-ke-bencana-non-alam-2/
Koentjaraningrat. (2002). Manusia dan Kebudayaan Di Indonesia. Djambatan.
MANSOBEN, J. R. (1995). Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Menlhk.go.id. (2019). Kesepakatan Masyarakat Adat Kabupaten Jayapura dalam Menjaga Kawasan CA. Pegunungan Cycloop. KSDAE. https://ksdae.menlhk.go.id/info/5997/kesepakatan-masyarakat-adat-kabupaten-jayapura-dalam-menjaga-kawasan-ca.-pegunungan-cycloop.html
Moleong, L. J. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif (revisi). Remaja Rosdakarya.
Muller, K. (2009). Dataran tinggi Papua. Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK).
Muyan, Y., & Mariay, I. F. (2017). Pertanian Konservasi di Areal Pegunungan Cycloop Kabupaten Jayapura Papua. Savana Cendana, 2(2), 27–28. https://doi.org/DOI:10.32938/sc.v2i02.89
Ruhulessin, C. T. F. (2020). Fi Ra Wali: Revitalisasi Folklor “Saguku Hidupku” Sebagai Identitas Kultural Dalam Kosmologi Masyarakat Sentani-Papua. Jurnal Filsafat, 30(2), 181–201. https://doi.org/doi: 10.22146/jf.54207
Spradley, J. P. (1997). Metode Etnografi (Amirudin). Tiara Wacana.
Yektiningtyas-Modouw, W. (2008). Helaehili dan Ehabla: fungsinya dan peran perempuan dalam masyarakat Sentani Papua. Adicita Karya Nusa.
Yono, S. (2016). The Revitalization of Siklop (Cycloop) Mountain Myth: An Alternative of Conservation at Sentani Lake Through Oral Literature. METASASTRA Jurnal Penelitian Sastra, 6(1), 71–80. https://doi.org/DOI:10.26610/metasastra.2013.v6i1.71-80
DOI: https://doi.org/10.24114/antro.v10i1.56945
Article Metrics
Abstract view : 166 timesPDF - 67 times
Refbacks
- There are currently no refbacks.
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License