Perkembangan Tari Turak di Kabupaten Musi Rawas dan Kabupaten Rejang Lebong

Ira Miyarni Sustianingsih, Risa Marta Yati

Abstract


This study aims to describe and analyze the development of turak dance in Musi Rawas Regency, South Sumatra Province and Rejang Lebong Regency Bengkulu Province. The research method used is a qualitative method with a descriptive-analytical approach. The results of the study describe that turak dance is an authentic traditional dance originating from the Terawas area in Musi Rawas and Lembak districts in Rejang Lebong Regency. The name of this turak dance comes from turak which means bamboo. The bamboo weapon used as dance property during the independence war was filled with chillies with the aim of paralyzing the vision of Dutch soldiers who wanted to return to power. At present the development of turak dance in the two regencies is different, in which the creation of dance turak is mostly performed in the Musi Rawas area so that it gives birth to fan fan and scarf shawls. Meanwhile in Lembak, Rejang Lebong Regency, turak dance has not changed as in the Musi Rawas area.

Keywords


Turak Dance, Musi Rawas, Rejang Lebong.

Full Text:

PDF

References


Bulan, I. (2016). Transformasi Kuttau Lampung dari Beladiri Menjadi Seni Pertunjukan Pedang. Jurnal Kajian Seni, 03 (01): 58-68.

Dewi, R. S. (2012). Keanekaragaman Seni Tari Nusantara. Jakarta: Balai Pustaka.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1986) Ensiklopedi Tari Indonesia Seri P-T. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Fitriani, S. (2018). “Analisis Bentuk Gerak Tari Turak di Sanggar Studio Lingga Kota Lubuklinggau”. Jurnal Sitakara Edisi Keempat.

Idrus, M. (2009). Metode Penelitian Ilmu Sosial Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.

Irdawati, & Sukri. (2018). Pengembangan Koreografi Tari Podang Perisai dari Tradisi menjadi Modern di Kuantan Singingi Riau. Jurnal Panggung, 28(2), 215–229.

Irdawati dan Ali, S (2018). Buku Ajar Mata Kuliah: Deskripsi Analisis Tari I dan II Pengembangan Tari Podang Perisai di Kuantan Singingi Riau. Yogyakarta: Gre Publishing.

Koentjaraningrat (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Kurnia, M. (2016). Tari Melayu Eksistensi dan Revitalisasi Seni. Medan: Puspantara.

Mirdamiwati, S. M. (2014). Peran Sanggar Seni Kaloka Terhadap Perkembangan Tari Selendang pemalang di Kelurahan Pelutan Kecamatan Pemalang Kabupaten Pemalang. Jurnal Seni Tari, 3 (1): 1-11.

musirawaskab.go.id

Nursyam, Y. & Supriando. (2018). Makna Simbolik Tari Ilau Nagari Sumani, Kabupaten Solok Sumatera Barat. Jurnal Panggung, 28 (4): 498–510.

Pradewi, S. dan Lestari, W. (2012). Eksistensi Tari Opak Abang Sebagai Tari Daerah Kabupaten Kendal. Jurnal Seni Tari, 1 (1): 1-12.

Subagyo, H. (2003). Bentuk dan Makna Simbol Tari Seblang di Desa Olehsari Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Greget: Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Tari. 2 (2): 27-45.

Subyantoro, A. & Suwarto, FX. (2006). Metode & Teknik Penelitian Sosial. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Sustianingsih, I. M., & Yati, R. M. (2018). Kajian Tentang Perwujudan Nilai Juang Pada Tari Turak (Studi Kasus Kecamatan Suku Tengah Lakitan ( Stl ) Ulu Terawas Kabupaten Musi Rawas Sumatera Selatan ), Kaganga: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora, 1 (1): 1–11.

Prastiawan, I. & Suharyanto, A. (2014). Sejarah Tari, Medan: UNIMED PRESS

warisanbudaya.kemendikbud.go.id




DOI: https://doi.org/10.24114/gondang.v4i1.17137

Article Metrics

Abstract view : 348 times
PDF - 303 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Follow us on instagram @jurnalgondang