Cover Image

KAJIAN DESAIN PADA TEKSTIL TIRUAN BATIK DI SIDOMULYO NGAWI SEBAGAI TEKSTIL UNTUK SERAGAM

Silvia Khoiru Azizah, Tiwi Bina Affanti

Abstract


Batik craft in Ngawi Regency first appeared in Tempurejo, Banyubiru Village, which is called Griya Batik Sidomulyo. ‘Batik Imitation’ products have been produced as uniforms for government or private agencies in Ngawi Regency. The problems discussed are animed at determining the background of Griya Batik Sidomulyo’s production of batik imitations as textiles for uniforms and the aspects considered in designing  batik imitation uniforms. The method in this research uses descriptive qualitative methods with a design approach. The research location was conducted at Griya Batik Sidomulyo Ngawi. The design approach is used to study the imitation of cold wax printed batik cloth. The result of this study are the background of Griya Batik Sidomulyo producing batik imitation, beginning with producing hand-written batik. Production of cold wax printed batik imitations from 2010 until now. Efforts to produce imitation batik fabrics to be able to meet market at a relatively cheaper price. Fabric production does not only meet design requirements but must be by market demands dan buyers. The aspects considered in designing have similarities and differences in the functional, aesthetics, materials, and production processes. Other conciderations require consumer tastes, trends mode, marketing to establish communication.

Keywords: design, batik imitation, sidomulyo, uniform.


Abstrak

Kerajinan batik di Kabupaten Ngawi muncul pertama kali di Tempurejo, Desa Banyubiru yang bernama Griya Batik Sidomulyo. Secara visual desain tampak rapi dan komposisi coraknya bagus, serta hasil produksinya lebih awet dan tidak mudah luntur. Produk ‘tiruan batik’ telah diproduksi sebagai seragam instansi pemerintah maupun swasta di Kabupaten Ngawi. Permasalahan yang dibahas bertujuan untuk mengetahui latar belakang Griya Batik Sidomulyo memproduksi  tiruan batik sebagai tekstil untuk seragam dan aspek-aspek yang dipertimbangkan dalam merancang seragam tiruan batik. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan desain. Pendekatan desain digunakan untuk mengkaji kain tiruan batik print malam dingin di Griya Batik Sidomulyo. Hasil penelitian ini adalah latar belakang Griya Batik Sidomulyo memproduksi tiruan batik diawali dengan memproduksi batik tulis. Produksi tiruan batik print malam dingin sejak tahun 2010 hingga sekarang. Upaya memproduksi kain tiruan batik agar mampu memenuhi pasar dengan harga yang relatif lebih murah. Produksi kain tidak hanya memenuhi persyaratan desain, namun harus sesuai dengan permintaan pasar maupun pembeli. Aspek-aspek yang dipertimbangkan dalam merancang memiliki persamaan dan perbedaan pada fungsional, estetika, bahan, dan proses produksi. Pertimbangan lainnya diperlukan adanya selera konsumen, trend mode, pemasaran untuk terjalinnya komunikasi. 

Kata Kunci: desain, tiruan batik, sidomulyo, seragam.

 

Authors:

Silvia Khoiru Azizah : Universitas Sebelas Maret

Tiwi Bina Affanti : Universitas Sebelas Maret


References:

_________. (2019). Warta BBKB (edisi 6). Yogyakarta. Balai Besar Kerajinan dan Batik.

Affanti, Tiwi Bina. (2007). Ornamentik. Surakarta: FSSR UNS.

Azizah, S. K. (2020). “Tiruan Batik”. Hasil Dokumentasi Pribadi: 2020, Ngawi.

BSN. (2014). Batik-Pengertian dan Istilah. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.

BSN. (2015). Tiruan Batik dan Paduan Batik dengan Batik-Pengertian dan Istilah. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.

Ibrahim, I.I. (2007). Budaya Populer sebagai Komunikasi: Dinamika Popscape Mediascape di Indoneia Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra.

Lisbijanto, Herry. (2013). Batik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Rizali, Nanang. (2017). Tinjauan Desain Tekstil. Surakarta: UNS Press.

Suharso dan Ana, Retnoningsih. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Semarang: Widya Karya.

Sachari, Agus. (2005). Metodologi Penelitian Budaya Rupa. Jakarta: Erlangga.

Sulaeman, S., & Suhartini, T. (1988). Penelitian Pengaruh Beberapa Pelarut Organik Dalam Pembuatan Lilin Batik Cair Terhadap Proses Pembatikan. Dinamika Kerajinan dan Batik, (8), 25-29. 10.22322/dkb.v0i8.973

Sunaryo, Aryo. (2009). Ornamen Nusantara (Kajian Khusus Tentang Ornamen Indonesia). Semarang: Dahara Prize.

Susanto, Sewan. S.K. (1980). Seni Kerajinan Batik Indonesia. Jakarta: Balai Penelitian Batik dan Kerajinan.

Sutopo, H.B. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press.

Utoyo, J. T., Priyatno, A., & Azis, A. C. K. (2020). Penerapan Prinsip-Prinsip Seni Rupa Pada Kaligrafi Di Masjid Baiturrahman Unimed. Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS)3(2), 419-426. https://doi.org/10.34007/jehss.v3i2.330.

Van Hoed, V., Zyaykina, N., De Greyt, W., Maes, J., Verhé, R., & Demeestere, K. (2008). Identification and occurrence of steryl glucosides in palm and soy biodiesel. Journal of the American Oil Chemists' Society85(8), 701. https://doi.org/10.1007/s11746-008-1263-5.

Wulandari, Ari. (2011). Batik Nusantara: Makna Filosofis, Cara Pembuatan dan Industri Batik. Yogyakarta: Andi.


Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.24114/gr.v10i1.25024

Article Metrics

Abstract view : 40 times
PDF - 27 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.