Tari Troen U Laôt: Identitas Masyarakat Pesisir Pidie Provinsi Aceh

Yusri Yusuf, Yanti Heriyawati, Magfhirah Murni Bintang, Saniman Andi Kafri

Abstract


Tarian Troen U Laôt merupakan cerminan masyarakat Pesisir Pidie Aceh dalam pola hidup dan perilaku masyarakatnya, yang dominan bermata pencaharian sebagai nelayan. Tari ini diadopsi dari prosesi menangkap ikan di laut dengan cara menjaring, yang dilakukan bersama-sama, menjadi pola-pola gerak yang tersusun diringi syair, sholawat, dan zikir. Masyarakat Pesisir Pidie menjadikan tarian ini bagian dari kehidupan mereka, yang terlihat pada aktivitas nelayan terlihat dalam struktur penyajian berkaitan dengan susunan, bentuk, pengolahan elemen tari, pengolahan gerak, ruang, waktu, dan isi.berisi pesan Dari penyajian Tari Troen U Laôt.Penelitian ini bersifat deskriftif kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnokoreologi, dengan menggunakan pendekatan dari ilmu lain dalam melihat aspek- penyajian tari yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat nelayan, sehingga menjadi ciri dari masyarakatnya. Dalampenelitian ini digunakan teori bentuk oleh Soedarsono, estetika Djenlantik sebagai analisis dalam melihat bentuk penyajian tari berkaitan dengan filosofi keindahan tari bedasar latar belakang masyarakatnya, dan pendekatan sejarah, melihat keberadaan tari Troen U Laôt. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang tari Trouen U laot Sebagai iedntitas masyarakat Aceh khususnya masyrakat pidie.  Hasil penelitian menjelaskan, beberapa hal tersebut tergambar dari kebiasan masyarakat saat melakukan aktivitas dilaut, gotong royong, diiringi oleh tiga orang pemusik dengan menggunakan alat musik rapai, serune kale, dan geundrang. Tarian ini dibentuk dari bagian, yaitu: (1) Babakan Mukayoeh (2) Babakan Mulinggang; (3) Babakan Mukayoeh, (4) Pouget Pukat (5) Babakan Tarek Pukat.


Keywords


Tari; Troen U Laôt; Identitas; Pidie.

Full Text:

PDF

References


Abdulah, M.A. (2017), Acehnologi Volume 4. Banda Aceh: Bandar Publishing.

Azhar, (2018). Nilai komunikasi IslamDalam Tarian Tradisional Saman Gayo. Jurnal AT-BALAGH volume 2(1), 74-80.

Djelantik, M.A.A. (1990). Pengantar Dasar Ilmu Estetika. Denpasar : STSI.

Fitriani. (2017), Nelayan sebagai Ide Penciptaan Tari Tarek Pukat dalam Kajian Interaksi Simbolik. Jurnal Imaji: 14 (2), 180-185.

Restela, R, (2017). Tari Rampoe Sebagai Cerminan Karakteristik Masyarakat Aceh: Pangung, 27(2), 192-198.

Hermin, K. (1989). Makna Tari dalam Upacara di Indonesia. Pidato.

Lombard, D. (2008). Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Cet ke-3. Jakarta: Gramedia.

Maryono. (2012). Analisis Tari. Solo: ISI Press Solo

Murtala. (2009). Tari Aceh: Yuslizar dan Kreasi yang Mentradisi Banda Aceh: No Goverment Individual.

Nasution, S. (1988). Metode Penelitian NaturalistikKualitatif. Bandung: Tarsito.

Prastiawan, I., & Suharyanto, A., (2014). Sejarah Tari, Medan: UNIMED.

Slamet. (2016). Melihat Tari. Karanganyar: Citra Sain.

Yusni, I. W.(2016),Bentuk TariTroen U Laôt pada Masyarakat Pidie Kabupaten Pidie. Jurnal Gestur, 5 (2), 3 – 7.

Zuriana, C. (2019), Analisi Gaya Bahasa Dalam Syair tari Tradisional Aceh: Jurnal Unsyiah Banda Aceh, 3(2), 122-130.




DOI: https://doi.org/10.24114/gondang.v5i1.23973

Article Metrics

Abstract view : 111 times
PDF - 125 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.