Perubahan Fungsi Musik Kolintang di Desa Lembean Minahasa Utara

Marlyn Brainy Girlie Windewani, Zulkarnain Mistortoify

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan fungsi musik kolintang yang ada di desa Lembean, Minahasa Utara. Penelitian ini berada di ranah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode partisipan observer, di mana peneliti turun langsung ke lapangan dan melakukan observasi, serta melakukan wawancara mendalam dengan para narasumber. Masyarakat di desa Lembean melakukan upacara ritual menggunakan tiga bilah kayu sebagai alat untuk ritual. Kemudian masuknya Kristen Protestan di desa Lembean, kolintang ini dianggap kafir oleh Gereja. Nelwan Katuuk seorang difabel memperkenalkan kembali Kolintang dengan memainkan lagu-lagu rohani pada sebuah acara pernikahan sehingga terbentuklah orkes kolintang. Banyak pemuda Desa Lembean tertarik untuk belajar memainkan kolintang sehingga membentuk grup kolintang legendaries yang bernama Kadoodan, dari situlah orkes kolintang bertransmutasi menjadi alat-alat kolintang. Setelah Kadoodan melalukan rekaman kaset maka masyarakat mulai mengapresiasi musik kolintang baik di Minahasa hingga ke Nusantara bahkan sampai keluar negeri. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu, perubahan fungsi musik kolintang di Desa Lembean, Minahasa Utara diawali dari fungsi ritual dan sekarang berubah menjadi musik rakyat.


Keywords


Musik Kolintang, Perubahan Fungsi, Desa Lembean, Kadoodan.

Full Text:

PDF

References


Astuti, Sinta Indi, Septo Pawelas Arso, and Putri Asmita Wigati. 2015. “Naskah Akademik Ansambel Musik Kolintang Kayu Minahasa.” Analisis Standar Pelayanan Minimal Pada Instalasi Rawat Jalan Di RSUD Kota Semarang 3: 103–11.

Graafland, Nicolaas. 1898. De Minahassa. Batavia: G. Kolff & Co.

Katuuk, Alexander. 2019. “Ini Fakta Sejarah Asal Usul Kolintang Menurut Alexander Katuuk.” Www.Inspirasikawanua.Com. 2019. http://www.inspirasikawanua.com/2019/10/15/ini-fakta-sejarah-asal-usul-kolintang-menurut-alexander-katuuk/.

Khoerudin, M. R., & Karwati, U. (2019). Perubahan Fungsi Seni Lebon pada Masyarakat Desa Pepedan Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran. Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, 3(2), 128-133.

Moleong, Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nathaniel, Axcell, and Amelia Wisda Sannie. 2020. “Analisis Semiotika Makna Kesendirian Pada Lirik Lagu ‘Ruang Sendiri’ Karya Tulus.” SEMIOTIKA: Jurnal Ilmu Sastra Dan Linguistik 19 (2): 41. https://doi.org/10.19184/semiotika.v19i2.10447.

Rasjid, Meylisa, Rizal Sengkey, and Stanley Karouw. 2016. “Rancang Bangun Aplikasi Alat Musik Kolintang Menggunakan Augmented Reality Berbasis Android.” Jurnal Teknik Informatika. https://doi.org/10.35793/jti.7.1.2016.10774.

Rumengan, Perry, and Dinar Sri Hartati. 2021. “Transmutasi, Satu Proses Lahirnya Genre Musik Baru;Studi Tentang Kelahiran Ansambel Musik Kolintang Kayu, Satu Genre Musik Di Minahasa.” Clef: Jurnal Musik Dan Pendidikan Musik 1 (2): 1–12.

Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Suroso, P. (2018). Tinjauan Bentuk dan Fungsi Musik pada Seni Pertunjukan Ketoprak Dor. Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, 2(2), 66-78.

Tumuju, Nansy Vivi. 2014. “Simbol Verbal Dan Nonverbal Tarian Kabasaran Dalam Budaya Minahasa.” Fakultas Ilmu Budaya 78. http://repo.unsrat.ac.id/1386/1/artikel1.pdf.

Yusuf, M. (2017). Perubahan, Kontinuitas, Struktur Musik, Dan Teks Realisasi Nyanyian Buku Ende dan Kidung Jemaat Yamuger. Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, 1(1), 40-48.




DOI: https://doi.org/10.24114/gondang.v6i1.32100

Article Metrics

Abstract view : 164 times
PDF - 124 times

Refbacks



Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Follow us on instagram @jurnalgondang